Polisi Muda Bunuh Dosen di Bungo, Jambi: Kasus Terungkap Kurang dari 24 Jam

waktu baca 2 menit
Minggu, 2 Nov 2025 14:59 97 AM Editor

Bungo, Jambi | TribunX.id, Kasus pembunuhan seorang dosen wanita berinisial EY (37) di Kabupaten Bungo, Jambi, berhasil diungkap dalam waktu kurang dari 24 jam. Pelaku, Bripda Waldi (22), merupakan anggota Polres Tebo yang ditangkap di wilayah Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, pada Minggu (2/11/2025).

Penangkapan cepat ini dilakukan oleh tim gabungan Polres Bungo dan Polres Tebo, setelah jasad korban ditemukan di rumahnya pada Sabtu siang. Kasat Reskrim Polres Tebo, Iptu Rimhot Nainggolan, membenarkan bahwa pihaknya hanya melakukan back-up dalam proses penangkapan.
“Benar, pelaku anggota Polres Tebo. Kami membantu proses penangkapan,” ujar Rimhot, Minggu (2/11/2025).

Pelaku kini diamankan di Mapolres Bungo untuk pemeriksaan intensif. Pihak kepolisian masih mendalami motif dan kronologi pembunuhan, termasuk kemungkinan adanya hubungan pribadi antara pelaku dan korban.

Informasi yang dihimpun, korban EY merupakan dosen sekaligus Ketua Prodi S1 Keperawatan Institut Administrasi dan Kesehatan Setih Setio (IAKSS) Muaro Bungo. Ia dikenal aktif di dunia pendidikan dan memiliki reputasi baik di kalangan mahasiswa dan staf pengajar.

Korban ditemukan tewas di kamar rumahnya di Perumahan Al-Kausar, Dusun Sungai Mengkuang, Kecamatan Rimbo Tengah, pada Sabtu (1/11/2025) sekitar pukul 13.00 WIB. Tubuh korban ditemukan terbaring di atas tempat tidur dan tertutup sarung. Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Hanafie Bungo untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolres Bungo, AKBP Natalena Eko Cahyono, menyatakan hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
“Ditemukan lebam pada wajah, bahu, leher, serta luka di kepala. Selain itu, harta benda korban seperti sepeda motor dan mobil juga tidak ditemukan di lokasi, sehingga patut diduga ada unsur pembunuhan,” kata Natalena.

Lebih lanjut, hasil visum sementara menunjukkan indikasi pemerkosaan, dengan temuan sperma di celana korban. Penyidik masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian EY secara detail.

Kasus ini memicu perhatian publik karena pelaku adalah anggota kepolisian aktif, yang seharusnya melindungi masyarakat. Kepolisian menegaskan proses hukum akan dilakukan secara transparan dan tegas, tanpa pandang bulu.

EY meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan sejawat di kampus. Sosoknya dikenal berdedikasi tinggi, inspiratif, dan memiliki hubungan dekat dengan mahasiswa. Kasus ini menjadi pengingat tragis bahwa kejahatan bisa terjadi di lingkungan yang tak terduga. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

You cannot copy content of this page