JAKARTA|TribunX.id, Begitu tidak sejalan lagi dengan Bung Karno, Bung Hatta yang Wapres RI mengundurkan diri dari jabatannya. Saat itu aku yang masih siswa SD sangat terkagum-kagum dan merasa bangga punya Wapres yang punya prinsip dan berani bertindak tegas.
Begitu Bung Hatta mendengar berita bahwa Bung Karno lagi sakit parah di “Rutan wisma Yoso”,beliau mengunjungi sahabatnya itu dan di situ mereka saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu, luar biasa persahabatan mereka yang tak pandang masalah jabatan.
Sikap tegas dan berani bertindak kontroversial-nya Bung Hatta itu pun jadi saya ikuti.
Pada tahun 1980 saya sebagai Siswa Teladan Dinas LLAJR Sumut, ditugaskan di Jembatan Timbang dan di Patroli Jalan Raya di Wilayah IV Sibolga – Nias, dalam berdinas di LLAJR itu kami diwajibkan setor ke atasan, pelaksanaan wajib setor ke atasan itu sangat bertentangan dengan hati nurani saya.
karena kami “terpaksa” melakukan Pungli & Peras terhadap supir-supir truck dan juga supir mobil apa saja yang wajib kami periksa.
Karena merasa tidak sejalan dengan hati nuraniku.
Yaah,.. pada tahun 1983 aku tinggalkan saja LLAJR itu, lalu semua pengalaman buruk yang tidak mengenakkan hatiku itu aku bikin jadi berita dan aku kirim ke beberapa redaksi media massa saat itu, seperti majalah EXPO, TEMPO, koran KOMPAS, Sinar Harapan, SIB, Waspada dan lainnya.
Dan akhirnya, pada tahun 1983 saya diterima jadi calon juruwarta di majalah EXPO, masih jadi kuli-tinta tanpa Kartu Pers, tanpa identitas apa pun, wajib bikin laporan pemantauan minimal 3 berita setiap hari, tak tau bisa naik cetak berita nya atau tidak, bukan seperti wartawan saat ini, yang tiba-tiba saja bisa jadi Pemimpin Umum, bisa jadi Pemred, krna Kebebasan Pers di era Reformasi 1998 tanpa SIUUP.
Eeeh, baru saja seumur jagung menjadi Calon Juruwarta, saya merasa bangga laporan yang sayasampaikan ternyata naik cetak di majalah EXPO dengan judul, “Jembatan Timbang LLAJR Jadi Sarang Pungli”, wow keren… aku sudah jadi wartawan pikirku dalam hati, aku pun jadi lebih berani dan lebih bersemangat lagi cari sumber berita.
Waktu itu aku kagum dengan Pak Domo (Sudomo) yang Pangkopkamtib di zaman Orba, beliau nampaknya sangat galak memberantas korupsi dan pungli, lalu aku pun beranikan diri menemui pak Domo di kantornya.
Kepada ajudan beliau aku titipin majalah EXPO dan tunjukin beritaku dengan kode (jsleo) yakni kasus Pungli di Jembatan Rimbang LLAJR itu. Dan saat itupun aku diterima pak Sudomo untuk berbincang-bincang tentang kasus Pungli yang aku beritakan itu.
Begitu aku pamit, pak Domo kasi aku yang bensin Rp. 100.000 yang saat itu sudah cukup besar, bisa untkk belanja seminggu.
Yang lebih membanggakan dan membuat aku kagum lagi, ternyata pak Domo seminggu kemudian melakukan Waskat – Sidak turun ke berbagai Jembatan Timbang LLAJR, sebulan kemudian Pangkopkamtib Laks Sudomo bikin kejutan “Menutup” seluruh Jembatan Timbang LLAJR di negeri ini.
Wow,.. aku pun jadi lebih percaya diri lagi jadi
kuli-tinta yang berstatus calon juruwarta EXPO.
Beritaku selanjutnya dimuat lagi, dengan judul,
“Koperasi Jadi Kuperasi di KPUM Medan”, Yah… 100 Exemplar majalah itu aku kirim kepada kawan untuk disebar kepada para supir Angkot KPUM Medan yang lagi berjuang mendongkel kebobrokan di KPUM pimpinan Ferdinan Simangunsong.
Tragisnya, majalah EXPO memuat judul berita yang sangat-amat bombastis, “Seratus Miliyarder Bisnis Keluarga Cendana”, Eeeh… majalah EXPO pun dibredel oleh Menpen RI, Harmoko.
Begitulah suka-sukaku di EXPO.
Yaaah,.. sekarang ini aku menyadari bahwa aku sudah tua, sudah peot, kata pak Harto.
Aku cuma bisa jadi penasehat, jadi pembina di beberapa media massa dan akhirnya aku pun mendirikan PB-FJPK, Pengurus Besar – Forum Jurnalis Peduli Keadilan, sebagai wadah para jurnalis juga untuk para purnawirawan penegak hukum yang masih peduli dengan keadilan di negeri kita yang tercinta ini.
Yaah..yang jelas dengan profesi sebagai jurnalis, saya bisa menambah wawasan yang luas dan relasi dengan para pejabat negara maupun para pengusaha tingkat nasional.
You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar