Aktivis Pemuda Islam Serukan Pecat Kepala Dinas Parekraf

waktu baca 2 menit
Kamis, 5 Jun 2025 04:30 19 Kustiawan

Jakarta]]TribunX.id. Sorotan tajam terhadap kinerja dan moralitas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi DKI Jakarta, Andhika Permata, terus menguat. Kali ini, desakan pemecatan datang dari aktivis Gerakan Pemuda Islam Indonesia Jakarta, Lukman Hakim, yang menilai Andhika tidak lagi layak memegang jabatan publik karena berbagai dugaan pelanggaran yang mencederai nilai etika, agama, dan kepatutan sebagai aparatur negara. “Publik tidak butuh pejabat yang sibuk membela diri dari isu-isu memalukan. Kita butuh pejabat yang bersih, fokus membangun Jakarta, dan bisa jadi teladan,” tegas Lukman di Jakarta, Kamis (5/6).

Menurutnya, ada tiga isu besar yang seharusnya menjadi dasar kuat bagi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk segera memberhentikan Andhika Permata dari jabatannya. Isu pertama yang mencuat adalah dugaan perilaku menyimpang seksual sesama jenis yang diduga melibatkan nama Andhika. Meski belum ada pernyataan resmi dari yang bersangkutan, berbagai tangkapan layar dan narasi yang beredar di media sosial telah menciptakan keresahan luas di tengah masyarakat. “Ini bukan soal orientasi pribadi, ini soal kepantasan. Seorang pejabat publik, apalagi di lingkungan strategis seperti DKI Jakarta, harus bersih dari perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila dan norma agama,” ujar Lukman.

Isu kedua yang disorot adalah dugaan penyalahgunaan anggaran dalam program Abang None Jakarta. Menurut Lukman, kegiatan tahunan ini telah berubah menjadi ajang formalitas penuh kemewahan yang minim transparansi dan akuntabilitas. “Berapa banyak uang rakyat dihabiskan untuk acara yang dampaknya ke pariwisata Jakarta hampir nol? Jangan-jangan ini cuma panggung untuk kepentingan elite, bukan rakyat,” kritiknya.

Isu ketiga yang semakin memperparah keadaan adalah keberangkatan istri Andhika Permata ke Paris dalam salah satu perjalanan dinas luar negeri. Masyarakat mempertanyakan legalitas dan urgensi keikutsertaan tersebut, apalagi jika dibiayai oleh APBD. “Kalau benar istri ikut dananya dari anggaran publik, ini jelas penyalahgunaan fasilitas negara. Uang rakyat bukan untuk liburan keluarga pejabat ke Eropa,” ujar Lukman dengan nada geram.

Lukman mendesak Gubernur Pramono Anung untuk segera bertindak. Menurutnya, membiarkan seseorang dengan segudang isu moral dan etik tetap duduk di jabatan penting hanya akan menghancurkan kepercayaan publik terhadap birokrasi. “Kalau Gubernur membiarkan ini semua berjalan, maka publik akan menganggap bahwa integritas birokrasi hanyalah jargon. Kita butuh tindakan, bukan pembelaan,” pungkasnya.

Lukman menegaskan bahwa pemimpin daerah harus berani membuat keputusan tegas, meski tidak populer, demi menjaga marwah institusi dan martabat rakyat Jakarta. Ia pun mengajak elemen masyarakat sipil, ormas, dan tokoh agama untuk tidak diam dan bersuara, agar Jakarta tidak dikuasai oleh birokrat yang mengkhianati amanah publik.

(Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

You cannot copy content of this page