SIDOARJO]]TribunX.id, Nasib orang kecil seringkali menjadi kambing hitam apabila para penguasa hendak membuat suatu kebijakan. Contoh nyata yang lagi viral dan jadi topik perbincangan beberapa hari terakhir ini. Rencana Penggusuran Pedagang Kaki Lima di Pepelegi dan Sawotratap yang walau pada akhirnya menemukan jalan keluar lewat mediasi, masih menimbulkan tanda tanya. Pertanyaan ini timbul ketika hari pertama alat berat mulai diturunkan dilokasi dan memulai pekerjaan penggerukan, Kamis,17/04/2025.
Luput atau memang tidak kelihatan, ohhh ternyata lebih dangkal sungai yang didepan perumahan pepelegi indah, tepatnya samping Te Kopi, sebrangnya SNA. Sudah semakin sempit lebar sungainya, beberapa jembatan dibangun “PERMANEN” juga.
Sebenarnya kalau mau adil, harusnya diarea ini yang perlu dibego untuk memperbesar kembali lebarnya sungai agar lebih lancar air dari sini kearah jalan raya.
Disinilah terlihat bagaimana yang disorot selama ini adalah PKL dan bukan perumahannya, padahal sungai yang sama. Akhirnya muncul pertanyaan apa karena PKL itu masyarakat kecil sedangkan diperumahan rata-rata menengah keatas ? Entahlah. Atau memang PKL sengaja dijadikan kambing hitam atas kurangnya persiapan pemerintah dalam mengantisipasi banjir sebelum musim hujan tiba ? Itu juga pertanyaan yang belum ada jawabannya. Yang jelas sangat terlihat sungainya makin sempit, lumpurnya sudah meninggi dan bahkan menjadi seperti sejenis pulau kecil ditengah sungai yang dipenuhi dengan tumbuhan rumput liar yang subur dan hijau bagai taman kota didalam kali, “ISTIMEWA”.
Kalau mau adil, harusnya mereka yang punya hunian disini ikut demo, agar taman dalam kali ini jangan sampai dibego juga oleh operator alat berat. Biar tetap awet dan makin meninggi rumputnya sampai menutupi aliran sungai yang mengarah ke PKL. Supaya membuka mata semua orang bahwa bukan PKL Penyebab banjir.
Herannya lagi sejak hadirnya Ibu Wakil Bupati yang mengedepankan faktor kemanusiaan dan memberi solusi dengan jalan mediasi tanpa menggusur, belum pernah terlihat dilokasi, para wakil rakyat yang terpanggil untuk memperhatikan nasib PKL ini, termasuk Bapak Lurah Pepelegi, Kemana mereka ? apa mereka tidak melihat atau mendengar ? Atau bahkan jangan-jangan mereka ada dibalik rencana penggusuran ini ? Entahlah…yang jelas bukan menuduh…yang ada hanyalah para pemerhati yang peduli dengan nasib masyarakat kecil.
Mereka pernah jadi pejabat namun sekarang lebih memilih mengejar jalan surga dengan perbanyak berbuat baik. Ada banyak juga yang bukan pejabat dan bukkan siapa-siapa juga namun punya hati belas kasihan, setip hari selalu ada dilokasi bersama para PKL.
Urusan yang lagi jabat tidak mau perduli biar aja, toh nanti waktunya pemilu akan muncul mereka yang tidak kelihatan saat ini untuk mengemis suara. Warga semoga masih kuat daya ingatnya sampai tiba saatnya pemilu.
(Bang Ari)
You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar