PALEMBANG – Tim Pusat Studi Lingkungan LPPM STIPER Sriwigama bersama BRIN menemukan eceng gondok mengepung 6 titik di Sungai Musi. Kepadatan tertinggi terjadi di Sungai Pegayut dan berpotensi meledak saat musim hujan. Senin, 24/08/2026
Tinjauan dilakukan pada 4–6 Agustus 2026. Tim menilai kondisi ini bisa mengganggu aliran sungai hingga ekosistem perikanan.
Tim dipimpin Dr.Ir. Krisna Delita, M.Si. Ia didampingi Dr.Ir. Siti Nurul Aida, MP., APU dan Tuah Nanda Merlia Wulandari, S.Si., M.Pi dari BRIN.
Hadir juga Annisa Tassia, SH., MH dari FH UNSRI dan Ida Aryani, SP., M.Si dari PT Jaga Alam.
Enam lokasi yang ditinjau yakni Kampung Kapitan Seberang Ulu, KFC Musi – Cafe Tentaro Seberang Ilir, Sungai Sekanak, Sungai Musi 2, Sungai Pegayut, dan Sungai Keramasan.
Dr. Siti menyebut eceng gondok sebagai spesies invasif berbahaya. “Dalam 2 minggu biomassa bisa berlipat ganda. Akarnya memang turunkan kekeruhan, tapi dekomposisinya naikkan TDS, nitrat, dan fosfat,” ujarnya.
Data Bengawan Solo bahkan menempatkan air di kategori tercemar berat.
Tuah Nanda menambahkan eceng gondok menutup cahaya dan membunuh makrofita serta alga asli. “Di Rawa Pening tutupan 70% sudah merusak hidrologi dan perikanan,” katanya.
Dr. Krisna menjelaskan hamparan padat eceng gondok menghambat aliran. Dampaknya erosi, sedimentasi, hingga rusaknya tempat pemijahan ikan.
Ida Aryani menemukan kadar klorofil-a melonjak di area terinvasi. Pemicunya fosfor dan nitrogen tinggi dari limbah.
Sementara Annisa mengingatkan UU 32/2009 dan PP 22/2021 mewajibkan pengendalian limbah dan penjagaan baku mutu air sungai.
“Kita harus jaga Sungai Musi dan kendalikan eceng gondok sesuai standar,” tegas Dr. Krisna menutup tinjauan.
ANDHI MULYANSYAH
You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar