SIDOARJO]]TribunX.id Lagi-lagi mengenai rakyat kecil pejuang rupiah kecil-kecilan yang berjuang untuk bertahan hidup siang malam untuk menyait rejeki, merasa terancam mata pencaharian mereka, sepakat menyatukan hati mengadukan nasib mereka kepada Tuhan, berharap ada mujizat terjadi, pemerintah berubah pikiran dan membatalkan rencana penggusuran.
Bertempat dihalaman samping Ruko Gateway, jalan raya pepelegi, lokasi diadakannya ISTIGOZAH, doa bersama keluarga besar Paguyuban PKL Pepelegi-Sawotratap.
Masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berlokasi di Jalan Raya Pepelegi, desa Pepelegi kecamatan Waru, dan desa Sawotratap kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, merasa perlu menyampaikan isi hati dan keluh kesah mereka kepada Allah, pemilik segala makhluk, seraya memohon kiranya rencana penggusuran ini dibatalkan sehingga hidup mereka juga tenang dan fokus berjualan. Kemudian Surat Peringatan 1 (SP1) yang diberikan Satuan Polisi Pamong Praja kabupaten sidoarjo yang ditandatangani secara elektronik oleh Kasatpol PP Kabupaten Sidoarjo, Drs. Yany Setyawan ditarik kembali, atau dibatalkan demi mempertimbangkan faktor kemanusiaan.
Dalam acara doa bersama ini juga, seluruh paguyuban baik laki laki dan perempuan, orang tua, remaja dan anak anak yang hadir, tidak lupa mendoakan acara Pelantikan seluruh Kepala Daerah agar berjalan lancar, yang mendapat amanah bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan tetap mengutamakan kepentingan masyrakat kecil, Doa dikhususkan juga buat Bupati Sidoarjo terpilih yang akan dilantik juga, semoga beliau sehat selalu, dilimpahkan rejekinya, lebih bijaksana dan perhatian kepada masyarakat kecil. Tumpuan harapan satu satunya kepada beliau sebagai kepala daerah kabupaten sidoarjo. Senin, 17/02/2025.
Dasar dikeluarkannya surat peringatan 1 ( SP1) ini pertama kali karena memperhatikan :
1. Surat Kepala Dinas PU Jasa Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo tanggal 16 Januari 2025
2. Surat Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Brantas tanggal 21 Januari 2025.
Kemudian berubah dari keduanya ini menjadi demi ketertiban umum masyarakat. Karena berubahnya ini maka perlu dipertimbangkan kembali agar tidak salah mengambil kesimpulan apalagi salah bertindak dan yang menjadi korban masyarakat kecil. Solusi mediasi sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Dalam kegiatan Istigozah ini, selain doa yang dimohonkan kepada yang kuasa, beberapa sesepuh turut hadir dan memberikan sambutan, salah satunya Bung Tito Pradopo, selaku Pembina Paguyuban PKL ini, sangat berharap kepada pemerintah, agar kalau bisa, sebelum digusur, diberi solusi sehingga ada peningkatan ekonomi dan pendapatan yang baik bagi PKL. Kalau digusur tanpa diberi solusi, anak istri mau dikasih makan apa ? Ini persoalan perut, Kalau bisa diberi tempat yang lebih baik, atau tidak digusur sama sekali, tutup Bung Tito.
Selain bung Tito, ada juga sesepuh PKL yg tidak bersedia disebutkan namanya menceritakan bahwa adanya PKL ini sudah hampir tiga puluhan tahun dan untuk masalah banjir, bukan PKL ini penyebabnya, karena didaerah lain seperti Medaeng itu, kadang banjir parah tapi disini tidak, oleh karena itu, banjir bukan PKL penyebabnya, ucapnya pada saat berbincang dengan awak media.
Aneh tapi nyata, disisi lain, warga yang tergabung dalam paguyuban PKL ini, terdiri dari dua desa yaitu Pepelegi-Waru, dan Sawotratap – Gedangan, Warga yang dari sore sampai malam berkumpul dan berdoa sambil memohon kepada sang kuasa, Kedua pemangku jabatan Kepala Desa ini baik desa Pepelegi maupun Sawotratap tidak juga terlihat dilokasi, Kemanakah beliau beliau ini, apakah tidak dapat informasi atau tidak mendengar ada warganya mau digusur ? Entahlah… yang jelas tidak terlihat, atau karena malam, gelap ? Tanyalah pada rumput yang bergoyang. (Bang Zack Ari Metboki)
You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar