Tuntutan JPU Terhadap 9 Terdakwa Korupsi Tata Kelola Pertamina Optimalkan Pemulihan Kerugian Negara 

waktu baca 2 menit
Sabtu, 14 Feb 2026 14:06 30 AM Editor

Jakarta|TribunX.id, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah membacakan surat tuntutan terhadap sembilan terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina. Persidangan tersebut digelar pada Jumat, 13 Februari 2026 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Adapun tuntutan yang terhadap para terdakwa tersebut yaitu:

Terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza

Pidana Penjara: 18 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: Total sebesar Rp13,4 triliun, yang terdiri dari:

Kerugian sewa terminal: Rp2,9 triliun.

Kerugian perekonomian negara: Rp10,5 triliun.

Terdakwa Agus Purwono

Pidana Penjara: 14 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp5 miliar.

Terdakwa Yoki Firnandi

Pidana Penjara: 14 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp5 miliar.

Terdakwa Sani Dinar Saifuddin

Pidana Penjara: 14 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp5 miliar.

Terdakwa Gading Ramadhan Joedo

Pidana Penjara: 16 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp1,17 triliun.

Terdakwa Dimas Werhaspati

Pidana Penjara: 16 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp1 triliun dan USD 11 juta

Terdakwa Riva Siahaan

Pidana Penjara: 14 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp5 miliar.

Terdakwa Edward Corne

Pidana Penjara: 14 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp5 miliar.

Terdakwa Maya Kusmaya

Pidana Penjara: 14 tahun.

Denda: Rp1 miliar.

Uang Pengganti: total Rp5 miliar.

Perkara ini mencakup penyimpangan hulu hingga hilir yang terbagi dalam beberapa klaster, yaitu klaster minyak mentah, impor BBM, sewa kapal, dan sewa terminal BBM. Fakta persidangan membuktikan adanya persekongkolan antara para terdakwa dengan pejabat PT Pertamina dalam proses sewa kapal pengangkutan serta sewa storage BBM.

JPU menekankan bahwa pembebanan uang pengganti dari aspek kerugian perekonomian sebesar Rp10,5 triliun pada Terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza didasarkan pada dampak luas yang dirasakan masyarakat, seperti tingginya biaya pembelian solar dan BBM.

“Tujuan pemberantasan tindak pidana korupsi bukan hanya memenjarakan orang, tetapi berupaya memulihkan kerugian keuangan maupun perekonomian negara,” ujar JPU dalam keterangannya.

Melalui amar tuntutan tersebut, negara berupaya melakukan optimalisasi pemulihan aset bila perkara a quo telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht), guna memulihkan dampak ekonomi akibat perbuatan melawan hukum tersebut.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

You cannot copy content of this page