Banyak Proyek Konstruksi Terganggu Terhenti Total Akibat Banjir dan Longsor Sampai Minyak BBM Melonjak Tajam

waktu baca 3 menit
Selasa, 9 Des 2025 08:51 86 AM Editor

Tapanuli Selatan|TribunX.id, Banjir dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten Tapanuli Selatan yang terjadi di tanggal 24-25 November 2025 berdampak besar pada aktivitas para pengusaha kontraktor. Begitu banyak proyek konstruksi terganggu bahkan berhenti total akibat bencana banjir dan longsor sampai akses jalan terputus, material rusak,serta kondisi lapangan yang tidak memungkinkan dilanjutkannya pekerjaan.

Seperti pasokan bahan bakar minyak (BBM) menjadi terbatas, sehingga harganya melonjak tajam di tingkat pengecer, bahkan mencapai dua hingga empat kali lipat dari harga normal. Akibatnya bahan material konstruksi seperti pasir, batu kali dan material pendukung lainnya juga menjadi sangat sulit diperoleh. Hal ini sebabnya sumber material untuk kebutuhan konstruksi di Tapanuli Selatan umumnya berasal dari Batang toru (Mabang) dan wilayah Aek puli di kabupaten Tapanuli Utara.

Selain kendala penyediaan BBM dan material konstruksi, bencana banjir dan tanah longsor juga menimbulkan kerusakan terhadap pekerjaan proyek yang sedang berjalan maupun pekerjaan yang telah selesai.

Yang terdampak langsung seperti Batangtoru,Muara Batangtoru, Angkola selatan Marancar, Sipirok dan Sayurmatinggi, banyak pekerjaan konstruksi yang terkena dampak fisik akibat tergerus air tertimbun longsoran, atau rusak karena pergerasan tanah.

Ketua BPC Gapensi Kabupaten Tapanuli Selatan Ali Akbar Hasibuhan, mengatakan bahwa kondisi ini menjadi pukulan berat bagi para pelaku usaha konstruksi,”Banjir dan longsor membuat beberapa ruas jalan tidak bisa dilalui, mobilisasi alat berat dan material tertahan, banyak proyek terpaksa dihentikan sementara, katanya.

Sejumlah kontraktor melaporkan kerusakan material yang sudah ditempatkan dilokasi proyek, tumpukan pasir dan batu tergerus air, Semen rusak karena terendam serta beberapa alat kerja mengalami kerusakan akibat kondisi tanah yang labil dan terlumpur situasi ini memicu tambahan biaya yang signifikan, sementara arus kas perusahaan terus tertekan.

Selain itu, bencana alam ini juga mengganggu distribusi material dari luar daerah. Truk Pengangkutan tidak dapat melintas di beberapa titik rawan longsor. Akibatnya, harga material ikut melonjak dan menambah beban pengeluaran para kontraktor, “Biaya jadi jauh di atas perhitungan awal. Namun pekerjaan tidak bisa dipaksakan ditengah resiko keselamatan yang tinggi, Unjarnya salah satu pengusaha kontraktor di Tapanuli Selatan.

Para pengusaha kontraktor berharap pemerintah kabupaten Tapanuli Selatan segera mengambil langkah cepat, terutama dalam pembukaan akses darurat, normalisasi ruas ruas jalan,serta kebijakan relaksasi terhadap waktu pelaksanaan proyek.Mareka meminta agar pemerintah mempertimbangkan bencana ini sebagai keadaan Kahar(Force majeure) Sehingga penyelesaian pekerjaan tidak dapat dilakukan tepat waktu sebagaimana yang telah diatur dalam kontrak.

Melihat ini tertentu harus tetap mengacu pada peraturan dan perundangan undangan yang berlaku, khususnya yang mengatur tentang keadaan Kahar (force majeure). Dengan adanya penyesuaian waktu yang tepat dan legal diharapkan proses administrasi tidak bermasalah dan hasil pekerjaan yang telah maupun yang akan dilaksanakan tetap dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

(Rahim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

You cannot copy content of this page